Syuurr…
“Aduh maaf Ayah, aku terlalu banyak siram pohon tomatnya, jadi roboh, nanti aku tanam ulang deh” rengekku. “Yah, Wita, ya sudah pelan-pelan saja tanamnya, memangnya kamu mikirin apa sih kok bisa sampe melamun begitu?” tanya ayah. “Ah, tidak yah, Cuma kesalahan teknis kok, hehehe” jawabku nyengir. Ayah tak tahu betapa aku memikirkan si mono, aku sangat menyayangi si mono, aku sangat berharap ia dapat kembali ke padaku, karena ia milikku. Sampai saat membantu ayah untuk menanam tomat di belakang rumah seperti ini pun aku masih memikirkannya.
###
Kring…Kring…
Aku tersentak kaget mendengar dering si mono yang membuyarkan lamunanku. Ku lirik jam diding kamarku, tepat pukul 5. Ku pandangi langit, tampaknya mendung enggan mengakhiri gerimis sore ini. Aku bergegas menggapai si mono dari meja belajarku. Ya, si mono berwarna hitam yang kusam dan telah beberapa kali di perbaiki adalah handphone pemberian ayahku ketika ulang tahunku yang ke 17. Sedikit terbesit kekecewaan karena harus memiliki handphone model lama yang harganya tidak seberapa...